saya lupa tepatnya mendapatkan tulisan ini dari link mana..
yg jelas tujuan saya ingin berbagi ilmu saja, bukan ingin plagiat tulisan orang lain...
selamat membaca dan semoga bermanfaat...
Salam
-Metta Oktavia-
Empat nasehat ini dikutip Syaikh Fuad Shalih dalam
bukunya Liman Yuriidu Az Ziwaaj wa Tazawuj. Sebagai ulama dan penulis
buku pernikahan, beliau merasa perlu mencantumkan hadits ini agar para suami
berbenah diri; tidak hanya menuntut istri mempersembahkan yang terbaik bagi
dirinya, tetapi juga ia mempersembahkan yang terbaik untuk istrinya.
Empat nasehat ini secara khusus mengajarkan suami
untuk berpenampilan menarik di rumah. Syaikh Fuad Shalih mengatakan:
Hal ini
diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Cucilah bajumu, rapikan
rambutmu, gosoklah gigimu, dan berhiaslah untuk istrimu.”
Cucilah Bajumu
Nasehat pertama ini memiliki dua dimensi. Dimensi pertama
ada pada proses. Dimensi kedua terletak pada hasilnya.
Sebagai sebuah proses, “cucilah bajumu” berarti
berbagi dengan istri dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan domestik,
khususnya bagi keluarga yang tidak memiliki khadimat. Mencuci baju tidak
dibebankan kepada istri saja, melainkan suami juga melakukannya. Baik mencuci
dengan tangan maupun dengan mesin cuci. Konsep berbagi peran inilah yang
diteladankan oleh Rasulullah. Kendati beliau adalah Nabi, pemimpin negara,
qiyadah dakwah dan panglima perang, beliau menyempatkan diri untuk membantu
istri-istrinya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga.
Ditinjau dari dimensi hasil, “cucilah bajumu” membuat
suami tampil dengan pakaian rapi di depan istrinya. Tidak kusut. Tidak menyebalkan.
Mungkin sebagian suami tidak merasa perlu tampil rapi
di hadapan suaminya, terkebih ketika malam tiba. Namun, jika ia menuntut
istrinya tampil prima di depannya, mengapa ia tidak menuntut dirinya melakukan
hal yang sama? Bukankah Islam menjunjung keadilan? Kita para suami kadang belum
juga mengerti bahwa wanita itu tidak selalu mencurahkan perasaannya kepada
suami. Ia kadang menyimpannya di hati dan berusaha menyabarkan diri. Saat kita
para suami dengan mudah mengatakan “Pakaialah baju yang indah”, para istri
hanya menahan sabar melihat kita menghampirinya dengan baju berbau. Mari kita
berusaha berubah. Menjadi suami yang lebih rapi di depan istri.
Rapikan rambutmu
Ketika berangkat kerja, ketika pergi ke kantor, ketika
hendak syuro, ketika mau mengisi pengajian, kita para lelaki yang katanya tidak
suka dandan, minimal merapikan rambut. Lalu saat hanya berdua dengan istri,
mengapa kita tidak melakukan hal serupa? Bukankah jika begitu kita lebih
mengutamakan orang lain daripada istri kita sendiri? Padahal rekan-rekan
kerjanya tidak memasakkannya. Teman-temannya juga tak bisa merawatnya ketika ia
sakit. Yang setia menemani, yang setia merawat adalah istri. Dan tidak ada
orang lain yang bisa menghangatkannya di kala kedinginan kecuali istrinya
sendiri. Lalu mengapa kita sebagai suami justru tak bisa tampil rapi saat
bersamanya?
Gosoklah gigimu
Bau mulut adalah satu hal yang mengganggu komunikasi
dan menjadi pembatas kedekatan. Ketika seorang suami tak suka istrinya
mengeluarkan bau saat ia berbicara, demikian pula istri sebenarnya tak suka
jika suaminya menghampirinya dengan bau yang tak sedap.
Adalah junjungan kita yang mulia, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam, setiap akan masuk rumah, beliau bersiwak terlebih
dahulu. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Bunda Aisyah menjadi saksi
kebiasaan Rasulullah ini. Ketika ditanya, “Apa yang dilakukan pertama kali oleh
Rasulullah jika dia memasuki rumahnya?” Beliau menjawab: ”Bersiwak”.
Maka sungguh nasehat ini harus dikerjakan oleh para
suami. Hendaklah ia rajin bersiwak atau menggosok giginya. Jika berduaan dengan
istri, pastikan sudah gosok gigi. Pastikan tak ada bau yang mengganggu. Hingga
curhat pun menjadi mengasyikkan. Hingga berduaan pun jadi penuh kemesraan.
Dan lebih dari itu, menggosok gigi atau bersiwak
mendatangkan dua kebaikan. Kebersihan dan kesehatan mulut, serta mendatangkan
keridhaan Tuhan. “Bersiwak itu membersihkan mulut dan membuat Tuhan ridha” (HR.
Al Baihaqi dan An Nasa’i)
Berhiaslah untuk istrimu
Para sahabat Nabi adalah suami-suami yang terdepan
dalam mengamalkan nasehat ini. Ibnu Abbas mengatakan, “Aku suka berhias untuk
istriku sebagaimana aku suka istriku berhias untukku”
Mengapa demikian, karena Ibnu Abbas yakin,
“Sesungguhnya berhiasnya suami di hadapan istrinya akan membantu istri
menundukkan pandangannya dari melihat laki-laki selain suaminya. Berhiasnya
suami di hadapan istrinya juga makin mendekatkan hati keduanya.”
Jika para sahabat yang sibuk berdakwah dan berjihad
tidak lalai berhias untuk istrinya, bagaimana dengan kita? Semoga bisa
meneladani mereka. [Muchlisin BK/Keluargacinta.com]